Konsistensi Posting Berbuah Manis

Konsistensi Posting Berbuah Manis

Ketika pandemi COVID-19 mulai merebak pada maret 2020, banyak pengusaha UMKM yang bertanya dan berkonsultasi kepada saya, bagaimana agar usaha mereka tetap ada penjualan walau dengan adanya keterbatasan interaksi dan menjaga jarak? Dan banyak diantara mereka yang terbiasa berjualan dengan cara offline. 

Para pengusaha UMKM ini adalah beberapa peserta pelatihan yang pernah bertemu maupun yang pernah berinteraksi dengan saya dalam mengoptimalkan penjualannya dengan cara online, dan kala itu belum adanya pandemi, saya menyarankan untuk mulai melakukan kegiatan digital juga, tidak banyak asal konsisten. “Ya 70%-30% laa”, itu saran saya kepada mereka, namun seperti biasa selalu ada alasan untuk tidak melakukan kegiatan digital usaha mereka.

Ketika pandemi mendera, yang bertanya pun minta diingatkan (diulang) materi sebelumnya semakin banyak. Bisnis memang adalah sebuah evolusi, dimana yang bisa beradaptasi dan belajar di lingkungan baru, dia-lah yang dapat bertahan. Semakin lama bisnis (usaha) maka semakin kuat dalam menghadapi dera tantangannya tidak terkecuali untuk pengusaha UMKM.

Dalam memulai kegiatan usaha secara digital pun tidak harus memakai dana yang besar, kadang untuk memulai kita gunakan perangkat atau platform gratisan saja juga bisa. Jadi akan sangat memudahkan bagi kalangan pengusaha UMKM yang masih sarat modal. Hal ini sudah saya pahami, maka saya dalam menganjurkan sesuatu memilih yang mudah dilakukan dan tidak menghabiskan banyak biaya. Sudah menjadi kebiasaan saya sebelum menyarankan sebuah aplikasi kepada teman-teman pengusaha UMKM, saya praktekan dahulu dan menemukan formula yang tepat dan sesuai dengan karakteristik teman-teman UMKM.

80% dari para pemilik usaha UMKM adalah ibu-ibu (emak-emak), yang selalu berkutat di dapur dan berproduksi. Penuh drama antara usaha, produksi dan keluarga. Namun kegigihan mereka tidak diragukan. Memang, namanya usaha kadang pasang dan kadang surut, namun jika dibarengi dan dibersamai, tidak jarang ada yang sukses dan berhasil juga. Saya bisa sebutkan beberapa yang berhasil dan mulai mengembangkan usahanya dan itu sangat memotivasi pengusaha UMKM yang lain.

Di Februari 2020, rekan saya memulai program wirausaha synergy dimana kami ingin secara konsisten memberikan pelatihan dan dukungan terhadap aktivitas bisnisnya baik itu aktivitas digital maupun pengetahuan psikologi, keuangan dan promosi marketing karena dalam program ini dibimbing oleh mentor-mentor yang berpengalaman di materi-materi yang saya sebutkan sebelumnya. Dan untuk menjadikan aktivitas kegiatan bimbingan baru ini menjadi kebiasaan, maka kami lakukan dorongan dan dukungan terus menerus selama 21 hari, dan itu yang kami lakukan. Selama 21 hari, kami tergabung dalam sebuah WhatsApp grup dan saben harinya selalu ada pengingat untuk apa yang harus dilakukan para peserta.

Ada 20% peserta yang melakukan dan sangat gigih dalam melakukan aktivitas pelatihan ini. Walaupun pesertanya ibu-ibu, namun mereka punya keinginan yang gigih dalam membesarkan usahanya. Ada seorang peserta yang saya ingat, karena di hari pertama beliau tidak bisa membuka email. Bahkan beliau tidak tahu fungsi dan guna email ini jadi email yang beliau gunakan ini, passwordnya yang tahu hanya suaminya. “Saya gak pernah gunakan email, saya pikir cuma untuk mengaktifkan ponsel aja” ini yang beliau utarakan, padahal banyak sekali gunanya email, yang mana menjadi batu lompatan dari cerita ini.

Setelah beliau pulang dan mencatat password email dari sang suami, di sinilah awal mula aset digital beliau mengoleksi aset digitalnya. Beliau secara gigih melakukan semua saran yang disarankan oleh para mentor, laporan keuangan, HPP (harga pokok produksi) HET (harga eceran tertinggi), aktivitas digital dan konsistensi konten, terus dilakukan walau tertatih-tatih diawal.

ningnong_kreasimakanan

Dari sudut pandang digital, beliau mulai mengatur aset platform digital yang ia punyai, dari Instagram, Google Bisnis hingga Youtube. Iya, seorang emak-emak yang sering berkutat di dapur dan lupa password email (karena dianggap tidak penting) ini merambah hingga youtube. Memang awal mula video konten youtube nya sangat kaku dan malu untuk menampilkan wajahnya, namun seiring dengan dorongan para mentor dan saya informasikan konsep digital marketing 4.0 diperlukannya wajah atau sosok manusia dari setiap usaha dan penyebaran konten digital, maka beliau berlatih untuk bisa dan mampu mengalahkan rasa malunya.

Setiap konten yang beliau buat, baik itu di instagram maupun di youtube, beliau selalu memposting nya kembali di Google Bisnis. Hal ini dalam aspek SEO (search engine optimization) dinamakan off page SEO, membangun jaringan tautan sehingga menginformasikan kepada mesin pencari, jika ada yang mencari konten dengan kata pencarian spesifik, maka mesin pencari bisa menyarankan kepada si pengguna yang mencari kata tersebut.

Hal ini konsisten dilakukan beliau hingga 6 bulan lamanya dan di bulan ke-7, beliau kontak saja secara pribadi (japri), bahwa ada pembelian diluar lingkaran langganannya atau komunitas-nya. Dan yang membuat beliau heran adalah si pembeli ini telah membayar lunas seluruh pesanan-nya padahal baru kenal atau baru tahu diantara keduanya. Hal ini sangat mengherankan untuknya karena belum pernah ada pembeli yang “berani” membayar 100% di depan sebelumnya dan nominalnya jutaan rupiah lagi, ini yang beliau katakan kepada saya. 

Saya menjelaskan kepada beliau, bahwa inilah maksud dari digital marketing 4.0 dimana menimbulkan rasa “trust” atau percaya walau belum pernah bertemu muka atau pernah merasakan pelayanannya. Namun karena si pembeli telah melihat diseluruh platform digital yang ada, instagram dan youtube, dengan nama pengguna yang sama dan isi sama bahkan ketika kontak di whatsapp pun nama usaha dan nama profil-nya sama, maka si pembeli merasa yakin bahwa pengusaha UMKM ini dapat dipercaya atas aktivitas usahanya. Ditambah lagi dengan ulasan para pembeli sebelumnya yang bisa dibaca melalui Google, semakin tambah percaya bahwa usaha UMKM ini memang profesional terhadap produk dan kualitasnya.

Aset Digital Usaha UMKM

Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa, UMKM perlu peduli terhadap aset digital usahanya. Salah satunya adalah bagaimana penamaan usaha dan nama pengguna di platform digital kita yang sebaiknya sama, sehingga memudahkan dalam memperkenalkan merek (brand) kita ke masyarakat atau calon pembeli. 

Aset Digital Usaha UMKM
Aset Digital Usaha UMKM

Konsistensi dalam membuat konten dan mempostingkan kembali di Google Bisnis dan berbagi ke media sosial yang kita punya akan membantu mesin pencari dalam memperkenalkan postingan dengan kata pencarian spesifik yang sesuai dengan kita produksi. Saya tekankan kata konsistensi ini adalah harus konsisten dalam hitungan hari-nya, jika bisa dalam hitungan jam, contoh: setiap hari jumat jam 1 siang atau setiap hari rabu dan jumat. Lebih kepada kualitas bukan kuantitas. Boleh kuantitas tapi konsisten, jika mampu membuat konten 10 kali sehari selama setahun, maka silahkan, daripada buat konten 1000 tapi sekali dalam 1 tahun.

Tips agar bisa konsisten, saya sarankan menggunakan Google Calendar dalam ponsel Anda. Pengalaman saya menyarankan, kreativitas tidak dapat dipaksakan, namun bisa direncanakan, maka rencanakan konten marketing usaha Anda jauh-jauh hari dan sesuaikan dengan hari besar agama ataupun hari besar nasional untuk memudahkan konten apa yang ingin Anda buat. 

Aktif dan proaktif dalam meminta ulasan dari pelanggan Anda. Karena ini merupakan validasi terhadap produk dan layanan usaha Anda. Sebaiknya mengumpulkan ulasan dari para pembeli Anda di Google Bisnis. Kenapa? Karena ulasan pembeli Anda dapat dibaca oleh calon pembeli. Terlebih pengguna Google di Indonesia mencapai 1,6 miliar per bulan, ini merupakan peluang yang baik yang bisa menambah pembeli kepada Anda secara digital. 

Berbagi promosi dan tips juga sangat disarankan sehingga platform media sosial Anda tidak melulu mengenai penawaran jualan yang sering membuat pembeli merasa jengah, namun dengan berbagi tips akan memberikan kesan Anda sangat menguasai pasar produksi usaha Anda.

Semoga tips ini dapat bermanfaat untuk Anda dalam bersaing di dunia digital, mari kita jadikan produk lokal bangun dan digdaya di pasar nasional.

Chrisma Wibowo