Isi Kembali Semangat Anda, Begini Caranya

Hari ini, tanggal 6 Februari 2018 merupakan hari ulang tahun Bapak saya. Tepat hari ini juga Selasa Pahing, hari lahir beliau 78 tahun lalu jam 05:10 pagi di Semarang. Bapak saya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara sekandung dan total 7 bersaudara 1 Bapak. Masa kecil di lalui dari jaman kemerdekaan hingga pindah-pindah mengungsi untuk keamanan keluarga. Pada jaman kemerdekaan itu, Mbah saya/ Bapaknya Bapak saya seorang pejuang. Sering mengikuti peperangan di mana jika di perlukan. Sehingga kadang tidak pulang dan tidak ada kabar berita membuat sang Istri (Nenek saya) sering diberitakan kabar bahwa Mbah sudah tewas di medan perang. Karena lama tidak pulang dan mendengar kabar telah tewas maka Nenek menikah lagi. Ketika jaman peperangan sangat susah untuk mengirimkan surat atau berita ke pihak keluarga.

Namun suatu ketika Mbah kembali pulang, betapa kaget melihat Nenek sudah menikah lagi. Sehingga perceraian tidak bisa di elakan keduanya. Walau dengan perceraian, rasa cinta Mbah Kakung tidak pernah putus kepada Nenek hingga akhir hayatnya. Kisah cinta Mbah dan Nenek saya pun laksana kisah Romeo dan Juliet, dimana keduanya datang dari 2 blok keluarga yang berbeda pandangan tentang budaya. Maka ketika pernikahan terjadi, mereka di harapkan bisa membawa keberkahan dan kemajuan pada desa kami, namun karena perperangan, maka drama dan kisah pun menjadi berbeda.

Karena perceraian itu, Bapak saya mengalami masa-masa susah di sekolah dan pendidikan nya, karena selalu di perebutkan antar Mbah dan Nenek. Ketika masa proklamasi dan sebelum agresi militer Belanda ke-2, Nenek tinggal di Jakarta sedangkan Mbah menetap di Jawa Tengah. Ada kisah yang paling kasihan dari Bapak saya, ketika masih duduk di bangku Sekolah tingkat Dasar, pada Hari Kamis sore -nya di boyong Nenek ke Jakarta sehingga pada Hari Senin nya sudah bersekolah di Jakarta. Namun pada Hari Rabu -nya sudah di jemput lagi oleh Mbah dan di bawa kembali ke Jawa Tengah untuk melanjutkan sekolahnya. Karena kisah itu Bapak saya selalu berpesan kepada Anak-anak-nya, “Pilihlah jodohmu sendiri, jika sudah menikah dan punya anak, janganlah bercerai. Karena dalam perceraian yang menjadi korban adalah Anak-anakmu. Bapak gak mau cucu-cucu Bapak merasakan yang Bapak rasakan.”

Cinta Sejati Cinta Seutuhnya

Bapak saya mulai merasakan cinta ketika bertemu dengan Ibu saya. Karena selalu di perebutkan cinta antara Bapak dan Ibunya, Bapakku merasakan cinta seutuhnya dari Ibu saya. Dari bangku sekolah hingga kini mereka selalu bersama. Bagaimana mereka menulis buku cinta (bukan surat cinta, karena surat bisa hilang sehingga mereka menulisnya dalam buku dan saling tukar setiap harinya) Bapak selalu memikirkan Ibu saya sudah makan belum dan selalu minta di bungkus jika saya ajak makan sendiri karena Ibu saya arisan dengan teman-temannya, khawatir Ibu belum makan dan demikian sebaliknya, Ibu selalu memikirkan Bapak sudah makan belum sehingga kalau arisan selalu membawa buah tangan.

Sederhana, namun itulah namanya perhatian dan saya belajar dari kedua sejoli ini bagaimana mencinta melewati batas waktu dan jarak, karena selalu memikirkan satu sama lain. Pernikahan mereka sudah di lalui 54 tahun dan jika di hitung dari waktu perkenalan (masa  pacaran) sudah 60 tahun lebih kedua orang tua saya bersama. Karena cinta sejati dan cinta seutuhnya hanya berasal dari keluarga.

Saya adalah anak ke-6 dari 6 bersaudara. Kami bersaudara 6 laki-laki semua. Iya, laki-laki semua. Betapa hebat Ibu saya membesarkan ke-6 anaknya kadang hanya dengan seorang asisten rumah tangga dan kadang tidak ada sama sekali, karena demi menemani suami dinas seluruh Indonesia. Dari Jakarta, Sampit, Bali, Pontianak, Singkawang, Jayapura sudah kami tempati. Banyak kejadian seperti saya yang pernah mandi di bak yang sama dengan orang utan di Sampit; Jatuh gelinding turun tangga di Bali, semua di lalui dengan kenakalan putra-putra Bapak saya. Tapi Bapak suka melihat itu semua karena di lalui bersama-sama dalam satu rumah.

Mendengar Lebih Baik

Inilah yang biasa saya lakukan untuk mengisi baterai atau mengisi asa dan semangat saya, dengan bertemu kedua orang tua saya. Mendengar ceritanya, melihat perkembangan, kesehatan dan tawa bersama, membuat saya selalu bersyukur atas keberkahan dan keselamatan yang telah Allah SWT berikan kepada kami sekeluarga. Bapak saya selalu mengajarkan kejujuran, Sholat dan pikirkan amanahmu. Karena harta, anak dan kepandaian adalah amanah yang harus kita jaga, kembangkan dan manfaatkan untuk orang lain bukan untuk diri sendiri. Janganlah melupakan sejarah keluarga agar kita tidak menjadi orang yang sombong.

Dulu dan Kini, 29 tahun bedanya

Ya Allah berikan lah keselamatan, kesehatan, dan kesabaran dalam menempuh hidup di dunia untuk kedua orang tuaku.Saya bukanlah apa-apa jika tanpa jerih payah pendidikan dan kerja kedua orang tua ku. Seluruh kebaikan, amalan dan ilmu yang bermanfaat yang kulakukan dan kupunya adalah karena bimbingan kedua orang tuaku. Ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku. AAMIIN

Yuk teman-teman, kita sama-sama belajar memahami sejarah keluarga, mengingat dengan memanjatkan doa dan menerapkan nilai-nilai luhur keluarga. Supaya semakin banyak generasi yang hormat kepada orang tua, sayang kepada orang yang lebih tua dan disiplin akan nilai luhur itu. Sudah cukup lah korupsi di Indonesia merajalela, bayangkan apa kata orang tua kita jika kita melakukan tindakan memalukan. Kita hidup hanya sementara di dunia, untuk mencari pahala dan jalan kembali ke Surga. Sebab pada hakikatnya kita adalah penghuni surga, namun karena bujukan setan sehingga banyak yang lupa kembali menuju kebaikan. Orang tua kita adalah malaikat kita di dunia. Isi kembali asa dan baterai teman-teman di lingkungan keluarga. Belajar sejarah keluarga untuk membangun masa depan kita.

error: Catatanku ini dilindungi undang-undang!!